TEKNIK BERMAIN UNTUK MENGEMBANGKAN MORAL PADA ANAK USIA DINI

A. Pendahuluan
Dalam pendidikan anak usia dini salah satu kawasan yang harus dikembangkan adalah nilai moral, karena dengan diberikannya pendidikan nilai dan moral sejak usia dini, diharapkan pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, benar salah, sehingga ia dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Ini akan berpengaruh pada mudah tidaknya anak diterima oleh masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisasi.
Dalam pengembangan nilai nilai moral anak usia dini harus dilakukan dengan tepat. Pengembangan nilai moral untuk anak usia dini ini bisa dilakukan di dalam tiga tri pusat pendidikan yang ada, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dalam pengembangan nilai moral untuk anak usia dini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal ini dikarenakan anan usia dini adalah anak yang sedang dalam tahap perkembangan pra operasional kongkrit seperti yang dikemukakan oleh Piaget, sedangkan nilai-nilai moral merupakan konsep-konsep yang abstrak, sehingga dalam hal ini anak belum bisa dengan serta merta menerima apa yang diajarkan guru/orang tua yang sifatnya abstrak secara cepat. Untuk itulah ‟orang tua‟ harus pandai-pandai dalam memilih dan menentukan metode yang akan digunakan untuk menanamkan nilai moral kepada anak agar pesan moral yang ingin disampaikan guru dapat benar-benar sampai dan dipahami oleh siswa untuk bekal kehidupannya di masa depan.
Metode yang dapat digunakan sangatlah bervariasi, salah satunya adalah metode bermain. Dalam bermain ternyata banyak sekali terkandung nilai moral, diantaranya mau mengalah, kerjasama, tolong menolong, budaya antri, menghormati teman. Nilai moral mau mengalah terjadi manakala siswa mau mengalah terhadap teman lainnya yang lebih membutuhkan untuk satu jenis mainan. Pengertian dan pemahaman terhadap nilai moral mau menerima kekalahan atau mengalah adalah salah satu hal yang harus ditanamkan sejak dini.

B. Pengertian Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa memperhitungkan hasil akhir. Bermain dilakukan dengan sukarela tanpa adanya tekanan/paksaan dari pihak luar dan juga bukan merupakan suatu kewajiban (Hurlock, 1972). Melalui bermain, anak akan menemukan kekuatan, dan kelemahannya, ketrampilan, minat, pemikiran, dan perasaannya. Melalui kegiatan bermain bersama, anak-anak akan mengembangkan tubuh, otot, dan koordinasi dari gerakan, kemampuan berkomunikasi, berkonsentrasi, dan mencoba melakukan ide kreatifnya. Nilai hidup seperti cinta, menghargai orang lain, kejujuran, jiwa berolah raga, disiplin diri, antara lain akan diperoleh dari bermain dengan orang lain. Dengan bermain bersama anggota keluarga atau teman sebayanya, akan lebih mengakrabkan satu sama lain. Dalam setiap kegiatan bermain, terkandung berbagai pesan, antara lain adalah kejujuran, memahami aturan, menunggu giliran, menerima kekalahan, ketekunan, strategi, tidak mudah putus asa, dan lain-lain.

C. Tahapan-tahapan Perkembangan Bermain pada Anak Usia Dini
1. Anak Usia 1-2 tahun (Bermain Eksplorasi)
Anak mulai mengenal berbagai jenis mainan dan mencoba untuk memainkannya dengan caranya sendiri, misalnya dengan mencoba menggigit, memukul-mukul, memencet, atau meraba-raba mainan yang dipegangnya. Pada usia ini, anak belum bisa bermain dengan permainan yang mempunyai aturan tertentu, seperti bermain peran (misalnya perang-perangan atau masak-masakan), karena kemampuan kognitifnya belum sampai pada tahap itu. Pada usia 1 tahun, umumnya anak-anak hanya bermain dengan anggota keluarganya sendiri. Pada usia 1,5 tahun, anak banyak bermain dengan diri sendiri dan belum mengikutkan orang lain dalam kegiatan bermainnya. Sedangkan pada usia 2 tahun, anak mulai berminat dengan anak lain, tetapi belum bermain bersama.

2. Anak Usia 2-3 tahun (Diperkenalkan Permainan Konstruktif)
Ada beberapa ciri khas anak usia ini yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Memiliki minat yang tinggi untuk mengeksplorasi lingkungan
Anak usia 2-3 tahun memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar. Salah satu permainan yang menyenangkan baginya adalah bermain eksplorasi, seperti mengutak-atik robot; mencopot bagian kepala karena merasa penasaran mengapa kepala robot tersebut bisa menoleh ke kiri dan ke kanan.

b. Perkembangan motorik kasar-halus semakin baik
Permainan yang sesuai adalah permainan dalam bentuk gerakan otot yang sederhana dengan atau tanpa objek, misalnya melempar bola, berlari-lari, atau memanjat.
c. Memasuki tahap praoperasional
Anak mulai mempresentasikan dunianya melalui kata-kata dan imajinasi, anak pada usia ini menyukai jenis permainan simbolik atau bermain pura-pura (bermain peran), misalnya bermain dokter-dokteran, berpura-pura menjadi superman atau batman.
Mulai usia 3 tahun, perbendaharaan katanya meningkat pesat, kira-kira lebih dari 900 kosa kata. Anak pada usia ini juga sudah mampu memperjelas dan mengoreksi kesalahan pengucapan. Anak pada usia ini juga sudah bisa dikenalkan dengan permainan membuat aneka bentuk yang termasuk dalam bermain konstrukftif, seperti misalnya bermain lego. Khusus untuk membentuk liliin, biasanya dimulai setelah usia 3 tahun, karena permainan menggunakan lilin merupakan permainan kognitif.
d. Masih memiliki kecenderungan bermain paralel
Pada usia 2,5 tahun, anak mulai dapat dapat bermain secara berteman, tetapi belum dapat bekerjasama dalam kelompoknya. Sedangkan sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat bermain dalam kelompok dan anak dapat menjalankan berbagai peran dalam kelompoknya (Padmonodewo, 2002).

3. Anak Usia 3-4 Tahun (Permainan dengan Aturan Sederhana)
Pada usia ini, kemampuan motorik kasar-halus anak sudah jauh lebih berkembang, sehingga anak dapat melakukan dua aktivitas bermain sekaligus, misalnya melompat sambil kedua tangannya memegang bola dan berjalan meniti balok dengan seimbang. Untuk mengenal konsep bentuk, warna, dan lainnya, ia mulai belajar mengelompokkan, tapi hanya mengelompokkan sesuatu yang berbeda warna atau bentuknya saja. Contohnya mengelompokkan benda-benda yang berwarna merah atau benda-benda yang berbentuk bintang.
Anak pada usia ini kemampuan bicaranya juga bertambah, dan mulai mengerti aturan-aturan sederhana, selain juga mulai bersosialisasi dengan melakukan permainan secara berkelompok. Anak sudah mulai dapat dikenalkan berbagai permainan yang menggunakan aturan-aturan yang sederhana, misalnya permainan bergantian memberikan perintah kepada anak lain, contoh si A memberi perintah kepada anak lain untuk tertawa, kemudian semua anak tertawa, kemudian giliran selanjutnya si B menyuruh semua anak untuk berjalan lurus, maka semua anak berjalan lurus, dan begitu seterusnya sampai semua anak mendapatkan giliran untuk memberikan perintah. Permainan ini juga dapat disertai aturan hukuman apabila anak melakukan gerakan yang tidak sesuai dengan perintah. Permainan sederhana tersebut dapat mengembangkan banyak aspek, misalnya ketika anak mendapatkan giliran untuk memberikan perintah, maka anak harus berpikir karena tidak boleh sama dengan yang diperintahkan oleh anak lain. Hal ini dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan kemampuan berbahasa anak. Kemampuan motorik dan perhatiannya pun dapat berkembang, yaitu ketika anak melakukan gerakan yang diperintahkan, misalnya berjalan lurus. Selain itu, aspek sosial-emosional anak juga dapat berkembang, karena dalam permainan tersebut anak merasa senang dan dapat mengekspresikan rasa senang dengan bebas. Sementara dari aspek sosial, anak belajar untuk mendengarkan orang lain. Dengan menerima konsekuensi hukuman apabila salah melakukan gerakan yang diperintahkan, anak juga dapat belajar mengenai aturan dan sportivitas.
Bermain peran juga dapat dilakukan oleh anak pada usia ini, misalnya bermain dokter-dokteran atau pedagang-pembeli. Bermain peran dapat mengasah kecerdasan emosional anak. Anak akan mampu berbagi, bertenggang rasa dan sabar menunggu giliran.

4. Anak Usia 4-5 Tahun
Anak pada usia ini akan memilih teman yang menunjukkan minat yang sama besar pada permainan yang disenanginya, karenanya anak di usia ini cenderung bermain bersama dengan anak lain yang berjenis kelamin sama, misalnya bermain perang-perangan atau mobil-mobilan untuk anak laki-laki, dan bermain masak-masakan atau rumah-rumahan untuk anak perempuan.
Selain itu, unsur kompetitif sudah mulai berperan pada anak usia ini. Anak lebih menyukai permainan-permainan yang bersifat menantang dan menguji ketrampilannya, misalnya lomba lari, adu kelereng, atau lempar tangkap bola.

D. Beberapa contoh Rancangan Permainan Kreatif
1. Merangsang perkembangan motorik halus dan pemahaman
a. Bermain playdough untuk membuat bermacam-macam bentuk yang disesuaikan dengan keinginan anak. Pendamping dapat menstimulus misalnya dengan mengenalkan bentuk buah-buahan seperti buah semangka (bulat besar), buah jeruk (bulat sedang), buah anggur (bulat kecil). Selain anak mengenal bentuk bulat, mereka juga mengenal konsep ukuran besar-sedang-kecil, dan juga mengenal bermacam-macam warna. Selanjutnya anak mengenal penjumlahan, bila difasilitasi dengan menghitung buah-buahan yang dibuat.
b. Membuat sesuatu yang unik, misalnya mobil-mobilan, truk, pohon, rumah, anjing, gajah, burung, ulat, dan sebagainya dengan media kardus bekas segala ukuran, lem, gunting, selotip, biji-bijian, tali, sedotan, dan sebagainya.

2. Merangsang perkembangan bahasa dan sosial
a. Pendamping menyediakan papan flanel (story board) dan membuat banyak bentuk dari kain flanel aneka warna sesuai cerita yang akan diberikan ke anak-anak. Misalnya cerita tentang “Ulat yang lapar”, atau “Keluarga Donald”, dll. Sambil menempelkan aneka bentuk flanel ke papan flanel, anak-anak dirangsang untuk membuat cerita tentang tokoh-tokoh tersebut.
b. Bermain jual-beli dengan setting pasar atau toko akan menstimulus perkembangan bahasa dan sosial anak.

3. Merangsang perkembangan sensori
Mengenalkan panas, dingin, hangat, kasar, lembut, keras, pelan, licin, dan sebagainya. Dapat dilakukan dengan bermain cat.

4. Merangsang perkembangan emosi
Anak-anak diajak bercermin dan mengenali berbagai macam ekspresi wajah, misalnya ekspresi sedih, senang, menangis, tertawa,. Setelah mengenali ekspresi wajah tersebut, anak diajak melihat gambar-gambar ekspresi wajah dan menyebutkan orang dalam gambar tersebut sedang bagaimana perasaannya?.

5. Merangsang perkembangan motorik kasar
Anak dikenalkan pada permainan tradisional misalnya jamuran. Sambil bernyanyi anak membuat lingkaran dengan bergandengan tangan, berjalan memutar sambil bergandengan tangan, kemudian posisi badan dari berdiri-jongkok,. Selain mengenal permainan tradisional, anak juga diharapkan melakukan gerakan fisik dan merasa senang. Jenis permainan lain yang dapat digunakan misalnya Petak Umpet dan Sudamanda atau Gobag Sodor.

DAFTAR PUSTAKA

Arumi Savitri Fatimaningrum. KajianPsikologs Dalam Pemilihan Permainan Kreatif yang Merangsang Perkembangan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Yogyakarta. Di unduh pada tanggal 24 April 2014

Mukhamad Murdiono. Metode Penanaman Nilai Moral Anak Usia Dini. Universitas Negeri Yogyakarta. Di unduh pada tanggal 28 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s